Mode Foto Game dan Warna Sampul yang Meleset di Percetakan
Dua tahun lalu saya mencetak tangkapan layar dari mode foto Ghost of Tsushima untuk ditempel di dinding kos. Di monitor, langit senja di gambar itu oranye menyala dengan daun merah yang hampir bercahaya.

Dua tahun lalu saya mencetak tangkapan layar dari mode foto Ghost of Tsushima untuk ditempel di dinding kos. Di monitor, langit senja di gambar itu oranye menyala dengan daun merah yang hampir bercahaya. Hasil cetak di kertas foto ukuran A3 justru keruh, oranyenya jadi cokelat bata, dan daunnya kehilangan kilau. Saya kira printernya rusak. Ternyata tidak ada yang rusak. Saya saja yang tidak paham bedanya cahaya layar dan tinta di kertas.
Beberapa bulan kemudian, kesalahan yang sama terjadi pada hal yang jauh lebih penting. Teman seangkatan memilih warna sampul skripsi dari tampilan laptop, menunjukkan kode hex ke percetakan, lalu marah karena hasilnya "beda jauh". Ia harus menjilid ulang karena prodi menolak warna yang terlalu terang. Tulisan ini untuk kamu yang belum sampai di tahap itu.
Kenapa gambar mode foto selalu tampak lebih hidup di layar
Game modern memamerkan mode foto sebagai fitur unggulan. Forza Horizon 5 memberi pengaturan eksposur, kontras, dan saturasi sampai detail. Marvel's Spider-Man memungkinkan kamu menggeser jam matahari. Ghost of Tsushima bahkan punya Kurosawa Mode, filter hitam putih dengan butiran film. Semua itu dirancang untuk dilihat di layar yang memancarkan cahaya sendiri.
Layar membentuk warna dari cahaya merah, hijau, dan biru yang dicampur. Monitor HDR yang cukup bagus bisa menembakkan kecerahan di atas 600 nit pada bagian terang. Kertas tidak bisa begitu. Kertas hanya memantulkan cahaya ruangan, dan tinta cetak bekerja dengan sistem empat warna, cyan, magenta, kuning, dan hitam, yang jangkauan warnanya lebih sempit. Hijau neon, biru elektrik, dan oranye yang sangat jenuh berada di luar jangkauan itu. Mesin cetak terpaksa menggantinya dengan warna terdekat yang bisa dicapai, dan warna terdekat itu biasanya lebih kusam.
Lalu ada faktor yang sering dilupakan: kecerahan layar laptopmu sendiri. Kalau kamu biasa bekerja dengan kecerahan penuh di kamar yang redup, biru dongker akan tampak seperti biru sedang. Saya pernah mengecek warna yang sama di tiga laptop teman dan mendapat tiga kesan berbeda.
Sampul hardcover tidak dicetak, dan itu mengubah segalanya
Bagian ini yang paling sering mengejutkan teman teman saya. Pada skripsi hardcover yang umum di Indonesia, warna sampul tidak berasal dari tinta. Warnanya berasal dari bahan pelapis, biasanya kertas atau kain bertekstur yang sudah berwarna sejak dari pabrik. Tulisan judul, nama, dan logo kemudian ditekan dengan pita foil emas atau perak memakai mesin hot print.
Artinya, kode hex di laptopmu tidak relevan sama sekali untuk sampul hardcover. Percetakan tidak akan mencampur warna sesuai kodemu. Mereka akan membuka buku contoh bahan dan menunjuk lembar yang paling dekat dengan permintaanmu. Kalau stok bahan "biru tua" di percetakan itu cenderung keunguan, hasilnya keunguan, berapa pun kode yang kamu kirim.
Softcover lain cerita. Sampul softcover memang dicetak, umumnya di kertas art carton 210 sampai 260 gram, jadi masalah jangkauan warna layar dan tinta berlaku penuh di sana.
| Bagian | Asal warnanya | Cara mengecek sebelum jadi |
|---|---|---|
| Sampul hardcover | Bahan pelapis berwarna dari pabrik | Pegang buku contoh bahan di percetakan, bandingkan dengan skripsi prodi yang sama |
| Tulisan dan logo sampul hardcover | Foil emas atau perak lewat hot print | Pastikan logo berupa garis tegas, tanpa gradasi dan bayangan |
| Sampul softcover | Tinta empat warna di art carton | Minta satu lembar cetak uji sebelum produksi semua eksemplar |
| Grafik dan diagram di bab hasil | Printer laser atau inkjet, sering hitam putih | Cetak satu halaman grafik dalam mode abu abu dan lihat apakah garisnya masih bisa dibedakan |
Baris terakhir di tabel itu sering luput. Grafik dengan empat garis berwarna yang cantik di layar bisa berubah jadi empat garis abu abu yang sama persis kalau dicetak hitam putih. Penguji yang membaca versi cetak tidak akan bisa membedakan variabel mana yang mana. Gunakan pola garis putus putus, titik, atau penanda bentuk, bukan warna saja.
Foil emas juga punya batasnya sendiri, dan ini mirip pengalaman saya memotret dengan Kurosawa Mode. Filter hitam putih itu membuang semua informasi warna, sehingga foto yang hanya mengandalkan warna langsung kehilangan bentuk. Foil bekerja dengan cara serupa: hanya ada satu warna, menempel atau tidak menempel. Logo kampus versi berwarna dengan gradasi dan bayangan akan berubah jadi gumpalan emas yang detailnya hilang. Huruf yang terlalu kecil, misalnya tulisan nama kota di bawah logo, sering ikut pecah atau melebar. Minta versi logo satu warna ke kampus, dan kalau percetakan menyarankan ukuran huruf minimal tertentu, ikuti saja. Mereka sudah melihat lebih banyak sampul gagal daripada kita.
Kenapa "samakan saja kodenya dengan pedoman" tidak menolong
Nasihat yang sering beredar di grup angkatan adalah mencari kode warna resmi dari pedoman prodi lalu mengirimkannya ke percetakan. Kedengarannya teliti. Masalahnya, sebagian besar pedoman penulisan yang pernah saya baca hanya menulis nama warna, seperti "biru tua" atau "hijau botol", tanpa kode apa pun. Kalau pun ada kode, untuk hardcover kode itu tetap harus diterjemahkan ke bahan yang tersedia.
Patokan yang lebih bisa diandalkan adalah benda fisik. Di perpustakaan fakultasmu ada rak skripsi dari tahun tahun sebelumnya. Ambil dua atau tiga dari prodi yang sama, dari tahun terbaru, dan lihat apakah warnanya konsisten. Kalau konsisten, itulah warna yang diterima dosen dan petugas perpustakaan, terlepas dari apa yang tertulis di pedoman. Catat nama percetakannya kalau tercantum, atau tanyakan ke kakak tingkat.
Pemain yang suka mode foto sebenarnya sudah tahu prinsip ini tanpa sadar. Foto yang paling bagus di layar belum tentu paling bagus di dinding. Satu satunya cara tahu adalah melihat versi fisiknya.
Yang saya lakukan sekarang sebelum mencetak apa pun
Setelah poster Ghost of Tsushima itu, saya mengubah dua kebiasaan. Pertama, saya menurunkan kecerahan layar ke sekitar setengah saat menilai warna, supaya tidak tertipu warna yang terlalu terang. Kedua, saya selalu minta cetak uji satu lembar sebelum mencetak banyak. Untuk poster, itu menghemat beberapa puluh ribu. Untuk skripsi, angkanya bisa ratusan ribu kalau menyangkut empat atau lima eksemplar hardcover.
Kalau kamu masih menimbang jenis kertas isi, panduan memilih jenis kertas yang tepat untuk skripsi dan ulasan soal gramatur kertas untuk cetak skripsi membahas bagian dalam buku. Kalau kamu tertarik pada game yang estetikanya meminjam tekstur kertas, ada juga tulisan tentang desain visual game online yang terinspirasi kertas.
Minggu ini, sebelum kamu memesan apa pun, pergi ke perpustakaan fakultas dan pinjam satu skripsi hardcover dari prodimu yang terbit tahun lalu. Bawa buku itu langsung ke percetakan dan minta mereka mencocokkan bahan sampul dengan buku contoh mereka di depanmu. Lima belas menit itu jauh lebih murah daripada satu set jilid ulang.
More in Games
Games
Cara Menyeimbangkan Main Game Online dengan Mengerjakan Skripsi
Banyak mahasiswa tingkat akhir merasa bersalah setiap kali membuka game online, seolah hiburan dan skripsi tidak bisa berjalan...
Games
Apa yang Game Online Ajarkan tentang Manajemen Waktu Mahasiswa Akhir
Game online sering dianggap pencuri waktu, padahal cara game menyusun waktu pemain justru menyimpan pelajaran yang berguna.
Games
Resep Crafting Game dan Urutan Berkas Sebelum Jilid Hardcover
Setiap musim wisuda, ada satu adegan yang selalu terulang di meja percetakan saya di Malang.