Skripsi Hardcover atau Softcover, Mana yang Diminta Kampus
Pertanyaan yang paling sering saya dengar di meja percetakan dekat kampus di Malang bukan soal harga.

Pertanyaan yang paling sering saya dengar di meja percetakan dekat kampus di Malang bukan soal harga. Pertanyaan pertamanya hampir selalu begini: "Mbak, yang diminta kampus itu yang keras atau yang tipis?" Jawabannya tergantung kapan naskah itu dicetak, untuk siapa, dan pedoman fakultas mana yang berlaku. Mahasiswa yang salah memilih biasanya bukan rugi besar, tetapi rugi waktu, dan di minggu terakhir pengumpulan, waktu lebih mahal dari uang.
Dua tahap, dua jenis jilid
Di kebanyakan kampus yang saya layani, skripsi dicetak dua kali dalam bentuk berbeda.
Tahap pertama adalah naskah untuk ujian atau sidang. Naskah ini dibaca penguji, dicoret, ditempeli kertas catatan, dan kemungkinan besar direvisi. Karena itu yang lazim diminta adalah softcover: sampul kertas tebal, biasanya art carton atau kertas linen tipis, punggung dilem panas, dan lapisan plastik bening di depan. Beberapa program studi bahkan menerima jilid lakban atau spiral untuk tahap ini. Jumlahnya mengikuti penguji, umumnya tiga sampai empat eksemplar.
Tahap kedua adalah naskah final setelah revisi disetujui dan lembar pengesahan ditandatangani. Inilah yang dijilid hardcover: karton tebal dibungkus kertas buffalo atau kain linen, warna sesuai ketentuan fakultas, judul dan nama dicetak dengan tinta emas, kadang dengan emboss. Eksemplar ini disimpan di perpustakaan pusat, ruang baca program studi, dan diberikan kepada dosen pembimbing.
Kesalahan yang paling sering saya lihat adalah mahasiswa yang langsung membuat hardcover untuk naskah sidang. Seorang mahasiswa Agribisnis pernah memesan empat hardcover biru tua sebelum sidang, dengan alasan supaya terlihat serius. Setelah sidang, revisinya menyentuh 31 halaman di bab empat dan lima. Keempat buku itu tidak bisa dipakai lagi.
Perbandingan fisik dan biaya
Angka di tabel ini adalah kisaran yang saya amati di Malang untuk naskah sekitar 100 sampai 150 halaman. Harga di kota lain bisa berbeda, dan biasanya naik menjelang wisuda.
| Aspek | Softcover | Hardcover |
|---|---|---|
| Bahan sampul | Art carton 210 sampai 260 gram, kadang dilaminasi | Karton tebal (board) dibungkus buffalo atau linen |
| Pengikat | Lem panas | Lem panas, atau jahit benang lalu dilem |
| Cetak judul | Dicetak biasa di sampul | Tinta emas, bisa emboss |
| Biaya jilid saja | Sekitar Rp7.000 sampai Rp15.000 | Sekitar Rp30.000 sampai Rp55.000, jahit benang lebih mahal |
| Waktu pengerjaan | Hitungan jam | 1 sampai 2 hari, bisa 3 sampai 4 hari di musim wisuda |
| Tahap yang cocok | Naskah sidang, draf bimbingan | Naskah final setelah pengesahan |
Biaya cetak isinya terpisah. Untuk HVS 80 gram hitam putih, kisarannya sekitar Rp300 sampai Rp500 per halaman, dan halaman berwarna bisa empat sampai enam kali lipat tergantung seberapa penuh gambarnya.
Anggapan "hardcover pasti lebih awet" tidak selalu benar
Banyak yang mengira sampul keras otomatis berarti buku tahan lama. Sampulnya memang tahan, tetapi yang menentukan umur buku adalah bagian punggung, tempat lembaran kertas diikat.
Hardcover murah biasanya hanya memakai lem panas tipis pada tumpukan kertas yang dipotong lepas, lalu ditempel ke sampul keras. Untuk naskah 80 halaman di HVS 70 gram, itu cukup. Untuk naskah 220 halaman di HVS 80 gram dengan lampiran tebal, lem tipis akan retak ketika buku dibuka lebar berkali kali. Saya pernah menerima kembali sebuah hardcover skripsi Kedokteran yang halaman 90 sampai 140 rontok bersamaan, padahal sampulnya masih mulus.
Jahit benang memperkuat punggung karena kertas diikat per kelompok sebelum dilem. Harganya lebih tinggi, sekitar Rp10.000 sampai Rp20.000 per buku di atas hardcover biasa, dan pengerjaannya lebih lama. Untuk naskah tipis, tambahan biaya ini tidak perlu. Untuk naskah tebal yang akan disimpan di perpustakaan selama bertahun tahun, saya selalu menyarankannya. Softcover dengan lem yang baik pada naskah 90 halaman bisa bertahan lebih baik daripada hardcover murahan pada naskah 250 halaman.
Detail yang biasa diatur pedoman fakultas
Setiap fakultas punya aturan sendiri, dan pedomannya sering hanya ada di berkas PDF yang dibagikan di awal semester. Sebelum datang ke percetakan, cari dan bawa catatan berikut:
- Warna sampul hardcover. Ada fakultas yang memakai biru tua, hijau botol, merah marun, atau kuning tua. Nama warnanya sering tidak cukup; minta contoh dari kakak tingkat atau foto sampul di perpustakaan.
- Bahan sampul, buffalo atau linen. Buffalo bertekstur halus mirip kulit, linen bertekstur anyaman kain.
- Isi tulisan di sampul depan: judul, logo, nama, NIM, nama program studi, nama kampus, tahun.
- Isi tulisan di punggung buku. Banyak mahasiswa lupa bagian ini. Umumnya nama, NIM, dan tahun, kadang singkatan jenjang.
- Jumlah eksemplar yang wajib diserahkan dan ke mana saja.
- Apakah perpustakaan masih meminta buku fisik atau cukup unggahan PDF ke repositori.
Repositori digital mengubah hitungan
Beberapa tahun terakhir, cukup banyak kampus beralih ke repositori daring. Perpustakaan pusat hanya meminta berkas PDF dan surat bebas pustaka, sementara hardcover tinggal untuk program studi dan pembimbing. Ada mahasiswa yang masih mencetak lima hardcover karena mengikuti saran kakak tingkat angkatan lama, padahal kebutuhannya tinggal dua. Selisihnya bisa lebih dari Rp150.000. Tanyakan ke bagian akademik atau perpustakaan sebelum memesan.
Buffalo atau linen, dan mengapa warnanya bisa meleset
Kalau pedoman tidak menyebut bahan, pilihan biasanya jatuh ke buffalo karena lebih murah dan permukaannya mudah dicetak tinta emas. Linen terasa lebih mewah di tangan, tahan gesekan, tetapi tinta emas di atas anyaman kainnya kadang kurang tajam untuk huruf kecil seperti NIM. Selisih harganya di tempat saya sekitar Rp5.000 sampai Rp10.000 per buku.
Masalah yang lebih sering justru warna. Stok buffalo "hijau tua" dari dua pemasok bisa berbeda nyata, dan perbedaan itu baru terlihat ketika buku Anda berdiri di rak program studi di samping buku angkatan lain. Bawa foto sampul skripsi kakak tingkat yang diambil di bawah cahaya siang, atau lebih baik lagi pinjam bukunya sebentar. Kami bisa mencocokkan langsung dengan gulungan bahan yang ada. Mahasiswa yang hanya menyebut "pokoknya hijau fakultas" adalah yang paling sering kembali dengan wajah kecewa.
Satu lagi soal tinta emas: periksa ejaan judul di lembar pesanan sebelum klise atau pelat dibuat. Kesalahan satu huruf di sampul hardcover tidak bisa ditambal; sampulnya harus dibuat ulang.
Cerita dari musim wisuda
Bulan menjelang wisuda selalu sama. Antrean hardcover menumpuk, mesin pres tidak pernah dingin, dan lem butuh waktu untuk benar benar kering. Seorang mahasiswi Sastra datang pukul tujuh malam meminta tiga hardcover jadi besok pukul delapan pagi. Kami bisa melakukannya, tetapi saya jelaskan risikonya: sampul yang dipres terlalu singkat cenderung melengkung dalam seminggu. Dia memilih menunggu satu hari tambahan dan meminta surat keterangan sedang proses dari kami untuk ditunjukkan ke bagian akademik. Bukunya rapi.
Cerita sebaliknya juga ada. Seorang mahasiswa Teknik Mesin memesan softcover untuk sidang dua minggu sebelum jadwal, lalu menyimpannya di jok motor. Hujan Malang di bulan Januari tidak kenal kompromi; sampul art carton yang tidak dilaminasi menyerap air dan bergelombang. Kalau naskah sidang akan dibawa ke mana mana, minta laminasi doff atau setidaknya plastik bening di sampul depan. Tambahannya hanya sekitar Rp2.000 sampai Rp4.000 per buku.
Pelajarannya sederhana. Pesan hardcover segera setelah lembar pengesahan lengkap ditandatangani, jangan menunggu batas akhir. Dan sebelum menyerahkan berkas ke percetakan, periksa ulang semuanya, karena hardcover yang sudah jadi tidak bisa dibongkar tanpa merusak sampul. Daftar periksanya sudah disusun Sekar di tulisan cek sebelum mencetak skripsi.
Ringkasnya, pilih berdasarkan tahap
- Draf bimbingan: cukup cetak dan klip, atau jilid lakban.
- Naskah sidang: softcover lem panas, jumlah sesuai penguji.
- Naskah final: hardcover sesuai warna fakultas, jahit benang kalau tebalnya di atas sekitar 180 halaman.
- Arsip pribadi: boleh softcover yang bagus; tidak ada aturan yang mewajibkan hardcover untuk koleksi sendiri.
Tulisan lain tentang bahan sampul, jenis jilid, dan pilihan kertas bisa ditemukan di kategori Jenis Jilid dan Cetak dan Kertas.
More from the blog
Cetak dan Kertas
Cek Ini Sebelum Mencetak Skripsi agar Tidak Cetak Ulang
Rp186.000. Itu jumlah yang harus dikeluarkan seorang mahasiswa Akuntansi untuk mencetak ulang empat eksemplar naskahnya, gara...
Games
Game Online Multiplayer yang Mengajarkan Kerja Sama Tim Riset
Penelitian tesis saya adalah bagian dari proyek payung seorang dosen, dengan empat mahasiswa yang berbagi satu set data survei...
Games
Jelajahi Desain Visual Game Online yang Terinspirasi Kertas
Kertas adalah bahan yang paling sering saya pegang selama bekerja sebagai asisten pemeriksa format, jadi wajar kalau mata saya...