Aturan Judul Tabel dan Gambar di Skripsi yang Sering Dicoret
Draf bab empat sudah bersih dari coretan isi, lalu kembali dari pemeriksa format dengan dua puluh lingkaran merah kecil.

Draf bab empat sudah bersih dari coretan isi, lalu kembali dari pemeriksa format dengan dua puluh lingkaran merah kecil. Hampir semuanya di tempat yang sama: judul tabel yang terletak di bawah tabel, nomor gambar yang melompat dari 4.3 ke 4.5, dan tulisan "Sumber: data primer" yang menempel di tengah halaman tanpa tahu milik tabel yang mana.
Waktu saya masih menjadi asisten pemeriksa format di fakultas, kesalahan di tabel dan gambar termasuk alasan paling sering naskah dikembalikan, bersaing ketat dengan urusan margin. Bukan karena aturannya sulit, tetapi karena aturannya kecil dan tersebar di halaman pedoman yang jarang dibaca sampai habis. Tulisan ini merangkum aturan yang paling sering dipakai kampus di Indonesia, lalu cara mengerjakannya di Word supaya tidak perlu dibetulkan satu per satu.
Aturan dasar yang dipakai hampir semua pedoman
Pedoman tiap kampus berbeda di detail, dan pedoman kampus Anda selalu menang. Tapi dari puluhan pedoman fakultas yang pernah saya pegang, pola berikut muncul berulang kali.
- Letak judul. Judul tabel di atas tabel, judul gambar di bawah gambar.
- Penomoran. Per bab, jadi Tabel 4.2 berarti tabel kedua di bab empat, dan Gambar 2.1 gambar pertama di bab dua.
- Sumber. Untuk tabel ditulis di bawah tabel, rata kiri. Untuk gambar di bawah judul gambar.
- Spasi isi tabel. Satu spasi, walau naskahnya memakai 1,5 atau 2 spasi.
- Rujukan. Tabel dan gambar disebut di paragraf sebelum muncul.
Cara paling gampang mengingat letak judul: tabel dibaca dari atas, jadi judulnya di atas. Gambar dilihat dulu, baru dijelaskan, jadi judulnya di bawah. Grafik, diagram alir, peta, foto, dan bagan struktur organisasi semuanya dihitung sebagai gambar, bukan tabel, meskipun grafiknya dibuat dari angka di Excel.
Soal posisi judul, sebagian kampus meminta rata tengah, sebagian rata kiri dengan nomor dicetak tebal. Ini salah satu detail yang benar benar berbeda antar fakultas, jadi buka halaman pedoman Anda dan cari contoh tabelnya, jangan menebak dari skripsi kakak tingkat. Saya pernah melihat satu angkatan menyalin format dari skripsi lama yang ternyata dibuat sebelum pedoman direvisi.
Kenapa nomornya terus berantakan
Penyebabnya hampir selalu satu: nomor diketik dengan tangan. Begitu dosen meminta satu tabel baru di tengah bab empat, semua nomor sesudahnya bergeser, dan daftar tabel di depan naskah tidak ikut berubah. Mahasiswa lalu membetulkan sepuluh nomor di badan naskah, lupa membetulkan dua rujukan di paragraf ("lihat Tabel 4.6"), dan pemeriksa format menemukan rujukan yang menunjuk ke tabel yang salah.
Penyebab kedua lebih halus. Banyak naskah mencampur nomor otomatis dan manual. Tabel di bab tiga dibuat lewat fitur keterangan Word, tabel di bab empat diketik biasa karena disalin dari dokumen lain. Daftar tabel otomatis lalu hanya memuat separuh tabel, dan kekurangan itu baru ketahuan di percetakan.
Cara mengerjakannya di Word sekali saja
Fitur yang dipakai bernama keterangan (caption). Langkahnya kurang lebih begini, nama menunya bisa sedikit berbeda tergantung versi Word.
- Pastikan judul bab memakai gaya Heading 1, bukan sekadar huruf tebal. Penomoran per bab bergantung pada ini.
- Klik tabel, buka menu References, pilih Insert Caption. Pada Label pilih Table, atau buat label baru bernama "Tabel" supaya tulisannya berbahasa Indonesia. Atur posisi Above selected item.
- Tekan tombol Numbering, centang Include chapter number, dan pilih pemisah titik. Hasilnya Tabel 4.1, bukan Tabel 1.
- Untuk gambar, ulangi dengan label "Gambar" dan posisi Below selected item.
- Saat menyebut tabel di paragraf, pakai Cross-reference di menu yang sama, bukan mengetik nomornya. Rujukan ini ikut berubah kalau nomornya bergeser.
- Di halaman daftar tabel, pilih Insert Table of Figures dengan label Tabel. Buat sekali lagi untuk daftar gambar.
- Sebelum menyimpan ke PDF, tekan Ctrl+A lalu F9 supaya semua nomor dan daftar diperbarui.
Langkah ketujuh yang paling sering terlewat. Word tidak selalu memperbarui nomor sendiri, dan PDF yang dikirim ke dosen bisa memuat daftar tabel versi minggu lalu. Kalau setelah F9 muncul tulisan "Error! Reference source not found", berarti ada rujukan silang yang tabelnya sudah dihapus. Cari dan hapus rujukan itu, jangan dibiarkan sampai cetak.
Kalau label "Tabel" buatan sendiri tidak muncul di pilihan, tekan New Label dan ketik sendiri. Cukup sekali per dokumen.
Tabel yang menyeberang halaman
Tabel panjang, misalnya hasil kuesioner tiga puluh butir, hampir pasti terpotong ke halaman berikutnya. Banyak pedoman meminta dua hal untuk kasus ini: baris kepala tabel diulang di halaman baru, dan di atas potongan kedua ditulis keterangan seperti "Tabel 4.3 (lanjutan)". Pengulangan baris kepala bisa diatur di Word lewat Table Properties, tab Row, centang Repeat as header row at the top of each page. Keterangan lanjutannya diketik manual, dan jangan dibuat dengan fitur caption, karena nanti ikut masuk daftar tabel sebagai tabel baru.
Ada pedoman yang justru melarang tabel terpotong dan meminta tabel panjang dipindah ke lampiran. Kalau tabel Anda lebih dari satu setengah halaman, tanyakan ke pembimbing mana yang mereka mau sebelum merapikan. Itu menghemat satu putaran revisi.
Nasihat "yang penting rapi" itu menyesatkan
Kalimat ini sering saya dengar dari mahasiswa: dosen tidak peduli posisi judul, yang penting tabelnya rapi. Untuk dosen pembimbing, kadang benar. Untuk pemeriksa format di fakultas atau petugas unggah repositori perpustakaan, tidak. Mereka memegang daftar cek, dan "judul tabel di atas" adalah satu baris di daftar itu. Tabel yang rapi tapi judulnya di bawah tetap dicoret.
Pemeriksa format tidak membaca isi bab empat. Mereka membuka halaman demi halaman dan mencocokkan bentuk dengan pedoman.
Hal lain yang sering dianggap selera padahal aturan: garis tabel. Sebagian pedoman, terutama yang mengikuti gaya APA, meminta tabel tanpa garis vertikal, hanya tiga garis horizontal (di atas kepala, di bawah kepala, dan di bawah baris terakhir). Kalau pedoman Anda menyebut gaya APA, cek bagian ini. Kalau pedoman tidak menyebut apa pun, garis penuh biasanya diterima.
Dan satu lagi yang sangat sering saya temui waktu memeriksa naskah: tabel atau gambar yang tidak pernah disebut di teks. Pedoman umumnya meminta setiap tabel dirujuk dulu di paragraf ("hasil uji validitas tercantum pada Tabel 4.2") sebelum tabelnya muncul. Tabel yang muncul tanpa pengantar terasa seperti tempelan, dan memang biasanya tempelan.
Gambar yang buram di hasil cetak
Ini lebih urusan cetak daripada format, tapi sering ketahuan bersamaan. Grafik yang disalin sebagai tangkapan layar dari SPSS tampak tajam di monitor dan pecah di kertas. Kalau memungkinkan, salin grafik langsung dari Excel atau ekspor dengan resolusi tinggi, lalu cek satu halaman hasil cetak sebelum mencetak semua eksemplar. Daftar periksa lain sebelum ke percetakan ada di hal yang dicek sebelum mencetak skripsi, dan urusan margin serta nomor halaman yang sering datang bersama masalah tabel ada di panduan margin dan penomoran halaman.
Yang bisa dikerjakan minggu ini
Buka naskah Anda, tekan Ctrl+F, dan cari kata "Tabel" serta "Gambar". Untuk tiap hasil, tanya tiga hal: apakah judulnya di posisi yang benar, apakah nomornya dibuat lewat Insert Caption, dan apakah tabel itu disebut di paragraf sebelumnya. Catat yang belum beres di satu halaman, lalu bawa catatan itu saat bimbingan berikutnya, dengan cara yang sama seperti catatan bimbingan agar revisi tidak berputar. Untuk naskah setebal seratus halaman, pemeriksaan ini biasanya selesai dalam satu sore.
More from the blog
Format Naskah
Cara Menyusun Daftar Pustaka Skripsi yang Benar dan Konsisten
Daftar pustaka sering dianggap bagian paling membosankan dari skripsi, padahal ini salah satu halaman yang paling sering...
Format Naskah
Cara Mengatur Margin dan Penomoran Halaman Skripsi yang Benar
Margin dan penomoran halaman terlihat seperti urusan kecil, tetapi justru bagian inilah yang paling sering membuat skripsi...
Kehidupan Kampus
Rincian Biaya Skripsi dari Proposal sampai Wisuda
Seorang adik tingkat pernah datang ke percetakan dengan uang Rp150.000 di dompet, yakin itu cukup untuk menjilid skripsinya.